MANIFESTASI JATI DIRI MANUSIA DALAM KELONG BASING SUKU KAJANG: KAJIAN EKOLOGI SASTRA

Jihad Talib, Nurhayati Nurhayati

Abstract


Suku Kajang memiliki tradisi yang unik. Salah satu tradisi yang masih konsisten dipertahankansampai sekarang adalah Kelong Basing.Kelong Basing merupakan tradisi yang dilaksanakan pada saat sebelum pemakaman dan pascapemakaman. Kelong Basing terbagi atas dua, yaitu Kelong Basing Kamangeang dan kelong Basing Kamaeang. TradisiKelong Basingmerupakan sebuah penghormatan dan penghiburan bagi jenasah dankeluarga yang ditinggalkan. Pelaksanaan Kelong Basing dilakukan oleh empat orang. Dua orang laki-lakibertindak sebagai pemain suling dan dua orang perempuan bertindak sebagai penyanyi yangmengiringi bunyi suling basing. Puncak acara Kelong Basing dilakukan pada hari keseratus duahari dalam acara yang dikenal dengan tradisi Akdangang. Tradis Kelong Basing bertujuan untukmenggambarkanharmonisasikehidupanmanusiadenganalamdankematian.Penelitianiniadalahdeskriptifkualitatifyangmenggunakanpendekatanekologisastra.PenelitianmenggunakandatalisanKelongBasing.Datadikumpulkan denganmetodewawancara, observasi, lapangan sertakepustakaan. Lirik Kelong Basing dalam bentuk kata,frase, klausa, dan kalimat ditranskripsikan dan ditransliterasikan untuk dianalisis nilai, dan pesanyang terkandung dalam lirik Kelong Basing. Berdasarkan hasil kajian terhadap tradisi KelongBasingterdapattigabentukharmonisasikehidupan manusia dengan alam.Ketigaharmonisasi tersebut, yaitu 1) harmonisasi manusia dengan tanah, 2) harmonisasi manusia untukhidupsederhana,serta3)harmonisasimanusiadankematian.Dengandemikian,dalam tradisi Kelong Basing suku Kajang diharmonisasikanetika hidup,etikasosial, dan pemeliharaan lingkungan secara konsisten.

Keywords


harmonisasi,manusia, kelong basing, sukuKajang, ekologisastra

Full Text:

PDF

References


Andang, K. J. (2020). Kajian Linguistik Metaforis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Lisan DERE sebagai Manifestasi Jati Diri Masyarakat Manggarai [Universitas Sanata Dharma]. In Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Sanata Dharma (Vol. 25, Issue 1). http://dx.doi.org/10.1016/j.jss.2014.12.010%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.03.034%0Ahttps://www.iiste.org/Journals/index.php/JPID/article/viewFile/19288/19711%0Ahttp://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.678.6911&rep=rep1&type=pdf

Arisa, Muhlis, Andi Srimularahmah, & Nur Rahmi. (2021). Hubungan Timbal Balik Manusia dan Alam dalam Legenda Ikan Bungo: Kajian Ekologi Sastra. Geram, 9(1), 74–81. https://doi.org/10.25299/geram.2021.vol9(1).5607

Azis, S., Zubaidah, S., Mahanal, S., Batoro, J., & Sumitro, S. B. (2020). Local knowledge of traditional medicinal plants use and education system on their young of ammatoa kajang tribe in south sulawesi, indonesia. Biodiversitas, 21(9), 3989–4002. https://doi.org/10.13057/biodiv/d210909

Badewi, M. H. (2018). Etika lingkungan dalam pasang ri kajang pada masyarakat adat Kajang. Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 1(2), 66. https://doi.org/10.12928/citizenship.v1i2.13619

Dominic, K. V, & Walker, A. (2020). Environmental crises in Kerala, Adelaide, and beyond: a collaborative poetic inquiry. TEXT: Journal of Writing and Writing Courses, 2(60), 0–21.

Endraswara, S. (2016). Sastra Ekologis: Teori dan Praktik Pengkajian (S. Endraswara (ed.); I). CAPS (Center for Academic Publishing Service).

Eneyo, V. B., Talib, J., Attah, F. M., & Offiong, E. E. (2022). IRAN ’ S NUCLEAR POLICY : NATURE , AMBITION , AND. 8(2), 202–222.

Farida, D. N. (2017). Kritik Ekologi Sastra Puisi Perempuan Lereng Gunung Karya Ika Permata Hati dalam Antologi Puisi Perempuan di Ujung Senja Melalui Ekofeminisme Susan Griffin. BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, Dan Pembelajarannya, 1(2), 48–52.

Garrard, G. (2004). Ecocriticism. In J. Drakakis (Ed.), Routledge (Taylor & F). Routledge. https://doi.org/10.1093/ywcct/mbaa018

Gay, M. (2016). Kajian Nilai-Nilai Dasar Kehidupan pada Sastra Lisan Ternate. Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan Dan Kesastraan, 4(1), 40–48. https://doi.org/10.31813/gramatika/4.1.2016.43.40--48

Gintsburg, S. (2020). Living through Transition: The Poetic Tradition of the Jbala between Orality and Literacy at a Time of Major Cultural Transformations. Rilce, 36(4), 1434–1454. https://doi.org/10.15581/008.36.4.1434-54

Hardin, S. N. (2020). Silariang Menurut Adat Suku Kajang di Desa Batunilamung Kabupaten Bulukumba. Alauddin Law Develompent (ALDEV), 2(1), 12–19.

Ihsan, N. (2021). Kajian Ekologi Sastra dalam Cerita Rakyat Kongga Owose dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Sekolah Dasar. SELAMI IPS, 14(1), 1–12.

Kaswadi. (2021). Paradigma Ekologi Dalam Kajian Sastra.

Luis, F., & Moncayo, G. (2017). Ecocriticism, Ecology, and the Cultures of Antiquity (Christopher Schliephake (ed.)). Lexington Books.

Oktaviani, R. T. (2019). Tari Pabbitte Passapu pada Upacara Tradisi Perkawinan di Suku

Kajang Dalam. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 1(1), 59–70. https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/pantun/article/view/745

Ratna, I. N. K. (2011). Antropologi Sastra: Perkenalan Awal. Metasastra, 4(2), 150–159.

Reskiani, M. I. U., Indah, A. L., & Djafar, Andi Nurul Ainun Fitri Makmur, E. M. (2021). Pasang ri Kajang: Tradisi Lisan Masyarakat Adat Ammatoa Suku Kajang dalam Pembentukan Karakter Konservasi. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Budaya, 7(4), 133–142. https://doi.org/10.32884/ideas.v7i4.495

Ridawati. (2017). Keaksaraan Dasar (KD) pada Komunitas Adat Terpencil (KAT)Melalui Budaya Pasang pada Komunitas Adat Suku Kajang Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Melalui Budaya Pasang Pada Komunitas Adat Suku Kajang Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, 5(2), 6–19.

Rukesi; Sunoto. (2017). Nilai Budaya dalam Mantra Bercocok Tanam Padi di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah: Kajian Fungsi Sastra. BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, Dan Pembelajarannya, 1(1), 25–45.

Seha dan Kristianto. (2016). Tradisi dan Sastra Lisan Sebagai Pewarisan Nilai-Nilai Luhur Masyarakat Baduy. SALINGKA, Majalah Ilmiah Bahasa Dan Sastra, 13(1), 1–16.

Sriyono, S. (2014). Kearifan Lokal Dalam Sastra Lisan Suku Moy Papua. Atavisme, 17(1), 55–69. https://doi.org/10.24257/atavisme.v17i1.19.55-69

Sukmawan, S. (2015). Model-Model Kajian Ekokritik Sastra.

Yeri. (2021). Falsafah Kelong dalam Tradisi Jaga di Desa Batunilamung Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. UIN Makassar.

Yuriananta, R. (2018). Representasi Hubungan Alam Dan Manusia Dalam Kumpulan Puisi Mata Badik Mata Puisi Karya D. Zawawi Imron (Kajian Ekokritisisme). Hasta Wiyata, 1(1), 1–14. https://doi.org/10.21776/ub.hastawiyata.2018.001.01.01

Zulfa, A. N. (2021). Teori Ekokritik Sastra: Kajian terhadap Kemunculan Pendekatan Ekologi Sastra yang Dipelopori oleh Cheryll Glotfelty (Ecocriticism Theory: A Study of the Emergence of the Ecological Approach Proposed by Cheryll Glotfelty). LAKON: Jurnal Kajian Sastra Dan Budaya 2021, 10(1), 59–63. https://doi.org/10.20473/lakon.v10i1.20198

Zulfikarni Bakri. (2018). Structural Analysis of Myth In Kelong Basing (Requiem from Kajang). Adab and Humanities Faculty Alauddin State Islamic University Makassar.




DOI: https://doi.org/10.37905/psni.v3i0.80

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




e-ISSN: 2988-4357

PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN INTERNASIONAL

HIMPUNAN SARJANA-KESUSASTRAAN INDONESIA (HISKI)

 

INDEXED BY:

Google Scholar